December 2010
8 posts
Aku tak pernah berhenti mensyukuri kehadiranmu, seakan-akan waktu datang untuk...
– (via karizunique)
Kita Kata cinta
Semacam pemupuk senyum di pagi hari Menyerap setiap siraman kata dalam mata Lalu mengakar menuju hati
Bersembunyi cinta dalam kata Tak ingin mengingkar disini ada rasa Seakan tak pernah ada kesedihan di dapat
Tak pernah tahu akan kebenaran Selalu menikmati tiap desiran cinta dengan kehati-hatian Takut terhanyut katanya lalu ditinggalkan
Senang Nyaman Tak ingin menghilang Biarlah begini kita...
Merasa Tak Pantas
Telah ku ketahui
Ini hanya masalah simpati
Cinta tak pernah terjadi
Atau hanya aku yang meratapi
“Tak pernah terbalas”
Itu seperti kalimat permanen dalam pikiran
Satu, dua, tiga, dan..
Ah… Hampir semua pria tak pernah melihat
Menenggelamkan diri dalam lautan asa
Berkondensasi dan menjadi hujan
Menyejukan tiap tanah yang penuh dahaga
Namun selalu merasa tak pantas
1 tag
Meraba Rasa
Tersenyum seketika namun mematikan rasa pun seketika. Hati ingin tapi pikiran terprogram. Perlu usaha agar teryakinkan. Luka ini memberi trauma.
Maaf bila kau ingin tau apa yang kau rasa sebenarnya, temui aku agar hilang rasa obsesimu dengan ku, ya itu akan hilang dengan sendirinya apabila kau hanya terobsesi akan rasa penasaranmu tentangku.
Tapi jika kau sungguh ingin denganku, temui aku, lalu...
Aku Suka atau cinta?
Aku suka kata-katanya
Indah!
Aku suka senyumnya
Manis!
Aku suka berbincang dengannya
Nyaman!
Aku resah dibuatnya menunggu
Rindu?
Aku sesak dibuatnya cemburu
Cinta?
Masih meraba antara kita, aku ini suka atau cinta?
1 tag
Day #15 Kata yang Tak Tersampaikan
Ku tuangkan tiap kata-kata kedalam suatu tulisan yang tak termaknai oleh ketidaktulusan hati
Kata-kata yang lemah tak terucap oleh sang bulan dimalam hari saat mendung menutupinya
Disaat para bintang menjadi mayoritas dikeheningan malam
Disaat bumi menutupi pandangannya terhadap matahari
Kata-kata itu tak pernah tersampaikan
Hingga kesendirian pun selalu menjadi sahabat
November 2010
29 posts
1 tag
Day #14 Matamu
Sekejap lidahku membatu
Mengingkari mataku yang berkata jujur
Biarlah sahabatku puisi yang mengaku:
Sungguh mata di balik lensa kacamata itu
Mata yang bisa mengunci dunia dalam bisu
Namun, kini matamu telah berlalu
Meninggalkan aku seperti orang buta
Meraba birunya pagi dan merahnya senja